MELEK POLITIK


KETIKA SOCRATES

"MENGGUGAT DEMOKRASI"


        Salah satu pencapaian terbesar Yunani Kuno yakni filsafat, tampaknya sangat curiga terhadap pencapaiannya yang lain, yakni Demokrasi. Dalam dialog-dialog Plato, bapak Pendiri filsafat Yunani Socrates, digambarkan sangat pesimis terhadap keseluruhan proses demokrasi. Dalam Buku Enam Republik, Plato menggambarkan Socrates terlibat dalam percakapan dengan karakter bernama Adeimantus.

          Meski demokrasi diciptakan dan diberlakukan pertama kali di Yunani pada abad ke-5 SM, namun sistem politik ala Athena tersebut ternyata tidak disukai oleh Socrates. Ada beberapa yang menyebut bahwa Socrates "membenci" sistem demokrasi tersebut, namun fakta bahwa Socrates tidak menyukainya sudah begitu gamblang.


    
        Socrates mencoba membuatnya melihat kekurangan demokrasi dan membandingkan masyarakat dengan kapal. Socrates berargumen bahwa memberikan suara dalam pemilihan adalah keterampilan, bukan intuisi acak. Dan seperti keterampilan apapun, itu perlu diajarkan secara sistematis kepada orang-orang.

"Membiarkan rakyat memilih tanpa pendidikan, sama tidak bertanggungjawab dengan menempatkan mereka sebagai penanggungjawab atas tiga kali pelayaran ke Samos dalam badai."

        Socrates pun harus mengalami langsung "bencana dari kebodohan pemilih". Pada 399 SM, dia diadili atas tuduhan palsu pemuda Athena. Akhirnya ia dihukum mati dengan hemlock dalam sebuah proses yang tragis.

        Yang terpennting, Socrates tidak elitis. Dia tidak percaya bahwa segelintir orang hanya boleh memilih. Dia, bagaimanapun, bersikeras bahwa hanya mereka yang telah memikirkan masalah secara rasional dan mendalam yang harusnya mendekati tempat pemungutan suara.








Komentar